Rabu, 08 Januari 2014

Tanpa Disadari

Diposting oleh Unknown di 04.46 0 komentar


Bergerak yang alami ….
Tik tok tik tok ….
Tatapan itu ….
Tik tok tik tok ….

Tahukah kamu mengapa jam selalu mngingatkan kita akan berharganya waktu ? selain karna memang waktu itu berjalan tanpa akal, juga karena jiwa yang begitu merindukan sang penggerak
Tahukah kamu mengapa perasaan yang hilang – muncul selalu menyakitkan ? selain karena rasa mu masih terlihat, juga karena keragaman hatinya masih memilihmu
Tik tok tik tok ….
Lihatkan ?  kamu bingung akan ini , kamu bingung dengan rasa itu
Dengarkan ? kamu memiliki banyak keajaiban , terlilit dari dirimu bersorak pertama kali ke dunia ini
Dan tanpa kamu tahu …. Kamu hanya sendirian …. Menunggu …. Dan takdirmu …. Itu tanpa arah …. Tanpa disadari …. Sama dengan judul tulisan ini …. Kamu tak sadar itu adalah kamu sendiri

Minggu, 05 Januari 2014

Langit yang Merindu

Diposting oleh Unknown di 01.22 0 komentar


Derasnya kamu menangis karena diriku yang tak pantas untuk kamu elu-elukan. Kamu hanya perihal yang tak harus mngorbankan setetes air yang berharga itu. 

Siang itu aku dan kamu berseru . berikrar dan berikhtiar untuk selalu bersanding di langit. Aku yang akan menerangi. Dan kamu yang akan menyejukkanku.
Perbincangan akan apa yang akan diberikan. Ini hanya sesaat ketika itu hanya sandiwara. Dari dulu-dulunya kami tidak pernah ditakdirkan satu. Komponen berbeda dari kami itu yang membuat kami sangat keterbelakang. Aku adalah matahari. Dia adalah awan.
Tahukah kau ketika hari itu cahaya mu sungguh membuatku muak. Aku meronta dan berteriak. Tak sadarkah kau telah mengambil hak ku di dunia ?
Aku yang penuh dengan keseriusan, kemapanan. Ini membuatku harus melakukakannya. Sekencang-kencangnya aku mengeluarkan kesedihan ini. Bumi pun mendukung keputusanku. Aku kalap dengan keadaan kacauku dengan matahari. Tak kuserahkan kebebasanku kepadanya. Kulontarkan semua kesedihanku. Angin membantuku. Mengencangkan tangisanku. Tapi tahukah aku akan keputusan salahku ? Tidak, aku tidak tahu.
Matahari dengan segelintir cahayanya hanya bersandar tenang di pangkuan langit.
Aku pun semakin murka dan hasilnya bumi menjadi berantakan. “Menyatupun kita tidak akan bias sepaham” , harapku untuk dia mengerti.
Matahari dan Awan yang saling berseteru. Langit pun hanya menjadi bidak tak bernyawa. Hanya bias merindukan suasana itu. Ketika Matahari dan Awan bercanda tentang asal usul dunia.
“Langitku hanya bicara seperti jangkar yang diam di dasar laut tapi akan bergerak ketika waktunya tiba. Yah, ketika dunia tidak ada lagi. Hilang di pelupuk Tuhan”, bersorak langit pada dirinya

Dan awan tetap berpendirian teguh begitu juga matahari
Ah… aku merindu

Sabtu, 04 Januari 2014

Dendam

Diposting oleh Unknown di 23.12 0 komentar
Dengan secangkir kopi panas yang ada di mejaku. Aku merabanya. Meraba dengan hangat tangannya.

08.00
Aku yang bimbang terbangun. Dengan cahaya matahari yang begitu sejuk. Dengan keanggunan pernak-pernik kemegahan. Aku terpaku dengannya yang begitu sempurna. Apakah segitu saja wujud kerlap mu?
Sebenar-benarnya aku, dialah yang kupuja.

12.00
Sembari aku menengada melihatnya yang begitu sempurna. Kubuka lembaran kertas penuh kata takjub yang tak kupungkiri. Sembari aku menuangkan kesempurnaan hatiku. Kubuka lembaran akal penuh cahaya yang tak bisa kubohongi. Aku ini menjadi seperti sempurna karena sosokmu

00.00
Andaikan dendam itu tidak ada. Aku cukup merasa lega. Tetapi ini adalah dendam mu untuk buatku sempurna. Lelah ku membuka lembaran dan meminum kopi panas itu. Dan bunyi tanda aku telah sempurna muncul. Kamu berhasil membalaskan dendammu. Kamu buatku sempurna. Dan kamu pun mencapai puncak dunia. Aku hanya duduk, berdiam diri, lirih mengucapkan kata-kata itu.
"Pergilah dengan tenang, kamu berhasil menghukumku, sayang"


KK
Makassar, 5 Januari 2013
Aku yang berlinang dengan dosa

Sabtu, 09 November 2013

Dunia "Q"

Diposting oleh Unknown di 07.07 0 komentar
menjadi putih dan abu" di dunia ini cukup mengesankan namun terlihat biasa. aku sebagaimana "aku" di dunia ini mencurahkan segalanya demi misi terakhirku di dunia yang baru ini.
aku datang tanpa paksaan ke dunia ini. dan akupun akan pergi tanpa paksaan juga.
mari kita mulai misi ini ...

ikuti jalan orang ghilyak yang tanpa arah itu..
dimulai dengan aku berada di pintunya
pagar yang menjulang tinggi... kokoh dan suara-suara angin yang mencekik menjadikanku basah ...
ah... mari kita lewati ini
berjalan terus hingga cahaya terang menjadikanku bimbang

"apakah benar harus kulewati ini ? harus harus dan harys ... !" 

menggenggam cahaya yang muncul ...
aku terbelalak ... rembulan menjadi dua ... inikah dunia baru itu sayang ?
seakan-akan bayangannya berubah menjadi rangkaian asa yang tak kunjung pudar ...
pudar bukan berarti hilang namun memunculkan "pudar yang terang" di dalam benakmu saja

kini mulailah aku mencoba membangun suatu kepompong udara
sendirian membuatnya akan memakan waktu "selamanya". akhirnya sosok itu muncul ...

"Orang Kecil"

membuka jalan bagiku untuk membuatnya sayang

"raihlah udara, dan itu akan muncul" kata sang penyirak. bagian dari "orang kecil" yang menjadi inti kawanan
semuanya meraih udara tak terkecuali aku ...
dengan semangat aku meraih udara hingga malam memancarkan ubunnya. aku terkesima dan ...
selesai ...

kepompong udara dengan diameter 170 - 180 cm muncul di depan mataku.
ada lubang kecil yang memancarkan sinar
itulah "Dohtaku",

"aku harus membangunkannya"
dohta bangun dan menatapku 
"kembalilah sekarang dan kau akan segera bertemu dengannya" 

hanya sepintas dia yang mengaku sebagai dohta menyuruhku untuk bertemu dengannya.
"siapakah gerangan sosok yang harus kutemui ?" 
 dengan arus wajah yang tenang saja 
"orang yang telah membuatku stagnan" 

arus laut yang mengeluarkan suara yang tenang kan aku yang tidak bisa menghentikan resah ini, memberikan jawabannya. solusinya hanya satu . dohta yang akan menjalani dunia baru ini. maza tetaplah diam di dunia lama ini. jadilah manusia dengan sifat "kebonekaannya". diam dan lihat. ini sudah diatur olehnya, si Dohta.

"andai kamu memang merenggut hidupku di dunia baru ini, apakah akau bisa tahu dia masih bernafas ?" 
dohta menatapku dan menjawab
"iya, kamu akan tahu dia masih bernafas. tapi harganya sangat mahal" 
warna wajahku berubah 
"harga apa yang kamu pasang demi mengetahui alur nafasnya di dunia ini ?" 

setangkai daun yang kusut akan warna angin. menyamakan dirinya yang tak kunjung menemukan pasangannya. dan jemari daun menemukan ujungnya dan tangkai daun ini akhirnya tahu. persamaan yang dia maksud ternyata tidak sama. dunia masing-masing .

"sanggupkah kau tak bisa berjalan di depan altar yang sama untuk selamanya ?" dohta dengan warna wajah yang sama 
"harga sebuah pertemuan kenapa begitu memilukan ?".
"karena di dunia baru ini jalan kalian telah diatur terpisah dan hingga tetesan air terakhir yang akan mengairi bumi ini, kalian akan tetap terpisah".
"jika ini adalah harga untuk nafasnya yang ingin kudengar, jika ini adalah harga untuk senyumnya yang amat manis, jika ini adalah harga untuk 20 tahun jalan stagnan kami, aku akan dengan begitu pasrah menerima persyaratanmu, wahai dohta ku".

jika di dunia tanpa ujung nanti kami akan bertemu, apakah kami akan mengingat bahwa dulu kami pernah mengalami kejadian hebat di dalam ruangan kelas kelas 4 SD ?
keterkosongan yang membuatku ingin bertemu dan 20 tahun takdir yang tak kunjung membuatku mengerti. semoga ini adalah alur cahaya ...

"ini adalah transaksi kita, mazaku yang rapuh. bersiaplah!". dohta dengan tangan hangatnya menyentuh pipi ini 

dan dunia "Q" yang aku bilang adalah dunia baru telah berjalan begitu lama. ekspekstasiku pada dunia ini ternyata sungguh berbeda.

"kalian telah bertemu tapi waktu kalian tidak sama lagi". 

dunia ini begitu aneh dengan aturannya ...

KK
Makassar, 9 November 2013 
menemani ku adalah  lagu Surga Cinta oleh Ada Band 

Jumat, 11 Oktober 2013

Dia yang tak tergantikan

Diposting oleh Unknown di 16.57 0 komentar
Sore hari itu.. tenang dan tak serumit malamnya.
Aku yang masih bisa tersenyum lemah, tak tahu hal itu akan terjadi
Telepon berdering...
Aku yang telah lemah
Menjadi lemah, seketika tulang ku tak ada...
Dia sudah tiada...
Tak pikir panjang
Aku langsung segera ingin melihatnya
Dua saudaraku mengikutiku
Perjalanan yang hampa mewarnaiku hari itu
Tak hentinya air mata ini deras membanjiri hati dan jiwaku
Kegelapan muncul dengan hening
Aku yang sudah lunglai
Dua saudaraku memegangiku
"Dia cantik sekali"
Tertidur pulas tanpa beban
Memakai gaun dan sepatu putih bak sang putri yang turun dari langit
Aku aku aku
Semuanya menjadi gusar malam itu
Aku tak tahan menahan dera perih
Saudara-saudaraku juga menemani kehampaanku
Aku yang hampa menjadi lebih hampa
"Kak, sungguh telepon hari rabu pagi itu adalah percakapan terakhir kita. Sungguh, aku tak menyangka. Kakak menyimpan semuanya sendiri. Sampai akhir. Aku aku aku sungguh tak kuasa. Tapi aku harus merelakan kakak pergi. Dengan senyuman aku harus merelakan kakak pulang kembali kepangkuan-NYA. Aku akan menyelesaikan apa yang sudah kita sama-sama mulai. PATO! Kami akan lakukan yang terbaik. Itulah janji kami semua kak. Tersenyum yah kak. Kami merelakan kakak dengan senyuman."
Malam yang hampa
Penuh arti kehidupan
Aku tak akan pernah lupa :')

Makassar, 10-10-2013
Vella Vannia M (in memoriam) :')

Rabu, 18 September 2013

Kamu yang Tak Kunjung Datang

Diposting oleh Unknown di 06.10 0 komentar
Aku tetap menjadi seperti ini

Aku yang selalu gelisah

Melihat langkah kakimu yang tetap menapak dengan alunan angin

Aku hanya iri akan itu

Kamu telah menghilang

Kamu berubah menjadi asing dan asing

Seperti bule yang memang asing di mata kita

Haiii, kamu siapa yah ?

Aku bukan tak kenal

Tapi kamu yang berlaku "aku tidak ada"

Aku hanya virus tanpa akal

Tanpa setali maza yang sanggup menjalankan tugasnya

Aku kira kamu bisa

Tapi ternyata kamu luar biasa terhempas

Kamu jauh ke lautan

Tapi aku jauh ke daratan

Kamu datang dengan sekantong bunga untuk kebenaran

Tapi aku pergi dengan dengan sekantong penyesalan untuk mu

Kamu terlambat bertindak dengan bungamu

Aku telah tertelan dalam daratan yang telah kubuat perlahan

Kamu tertunduk dalam keheningan

Akupun tertunduk dalam keheninganmu

Dan kamu tak kunjung datang

Aku pun tak kunjung meraih kedatanganku sembari aku menengadahkan tatapan ini

Aku terlajur jauh menyepi ke daratan

Lautanmu jauh

Aku tak bisa meraihnya lagi . . .

KK 
Makassar, 17 September 2013 
"Ketika menunggu itu menyenangkan"

Rabu, 04 September 2013

Puisi Bosan

Diposting oleh Unknown di 05.38 0 komentar
Satu, dua, tiga, empat

Inilah kebosananku tengggg

Pulihkan mata ini hingga fokus

Namun keasaanmu justru mengganggu sistemku

Kubuka kedua telapak tanganku

"Ah. . .  tetap seperti biasa"

Kupegang pulpenku

Kutengadahkan wajah ini di tumpuan kertasku

"Ah. . . aku tenggelam"

Lima jariku memegang pulpen ini dan entah apa . . .

Yang kutahu . . .

Aku tak bisa beritahu "apa yang kutahu"

Aku yang memegang pulpen

Dia yang memegang pulpen

"Kamu mulai lagi", dia bersuah

"Aku mendapatkan inspirasinya", Aku bercita

Dan kebosanan tak terhingga ini berlanjut

Puisi ku mengalun tak karuan

Dan tak karuan iti adalah ciri-ciri tempat ini

"Hoam . . .  hoam . . .  hoam"

Dan akulah pencipta puisi yang membosankan ini !

KK 
Makassar, 2 September 2012
"Ketika Bosan itu Datang"
 

Persembahan Kana Untuk Dunia Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review